Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts
Sunday, July 5, 2015
Wednesday, July 2, 2014
Jenuh
Menatap dan tak terarah
Mendengar namun tak kuketahui
Hal ini membingungkanku
dan menyesakkanku
Hadir di tengah keramaian
Bukan berarti ceria
Mendengar namun tak kuketahui
Hal ini membingungkanku
dan menyesakkanku
Hadir di tengah keramaian
Bukan berarti ceria
Friday, June 27, 2014
Terlintas Mimpi
Tangis
terisak di bawa guyuran hujan
Melangkah namun tak tahu arah dan tujuannya
Memandangi
mimpi-mimpi yang semakin jauh
Semakin
pudar
Teringat akan janji yang pernah kau peruntukkan kepadaku
Terbayang
genggaman tangan saat mengarungi jalan bersama
Namun,
kini jalan itu tak terlintasi lagi
Thursday, June 26, 2014
Rindu Terakhir
saat mata ini menyaksikan langkahmu menjauhiku
tak dapat lagi terbayang mimpi yang pernah marajuk harapku
penantian itu telah tergusur oleh lelahku
hanyut dalam derasnya air mata yang membanjiri
Tuesday, May 6, 2014
MENATAP BINTANG
29 Juni 2011 (ingatan lalu)
Malam itu, tepat pada selasa malam, sekitar
pukul 23.52 wita. Kutuliskan seuntai kata untuk sahabatku
sekaligus kekasihku..
Sobat..
Maaf atas segala apa yang telah kulakukan dan
ku katakan terhadapmu, maaf atas segala kobodohan dan keegoisanku, karena ku
tahu ini hal yang terbodoh yang pernah kulakukan..
tahukah kau sobat.. heningnya malam menjadi
saksi ketika tetesan air mata jatuh di bantal ini, hati bagaikan tercabit-cabit
ketika ku sadar bahwa kau tak bersamaku lagi, ku tak dapat bercanda denganmu
lagi, menatapmu lagi dan tak bisa menutup metamu lagi dengan tanganku,
dengan candaku...
Sobat...
Aku pun tak sadar bahwa sampai saat ini ku
masih meneteskan air mata, air mata yang kemudian meluluhkan kemarahanku, air
mata yang kemudian menghapuskan kebencian yang ku rasakan karenamu...
Sobat..
Rasa sayang yang selama ini kutanamkan tak
pernah layu dan kerdil meski kita tak bersama lagi, sebagai mana layunya bunga
mawar yang tak tersirami air..
Sobat..
Andai kau tahu bahwa ku tak mampu berdiri
tanpamu, ku telah kehilangan arah tanpa iringanmu..
Sobat..
Saat ini aku laksana "burung
Elang" dengan sayap-sayap yang telah patah..
sehingga ku tak mempu terbang mencari
kehidupan
ku tak mempu terbang mencari cinta
dan ku tak mempu terbang mencari kebahagiaan
yang selama ini ku impikan bersamamu..
Sobat..
Andai kau tahu, harapan dan do'a yang
senantiasa ku haturkan kepada "Sang Pencipta Cinta" untuk kemudian
mempersatukan kita lagi, tentunya tanpa masalah, cemburu, dan pengingkaran yang
selama ini meresahkan hubungan kita..
Namun akan tetap ku ucapkan "good bye
sahabatku"
Adhy Wj
Adhy Wj
Wednesday, April 30, 2014
PENDIDIKAN DALAM BAYANG-BAYANG
Hari
berlalu Menyisakan kekosongan dalam diri
Langkah
semakin tak berjejak
Orientasi
semakin pudar dari tujuannya
Laksana
Pelangi hampa tak berwarna
Mata
berbinar memandang gemerlap dunia
Mereka
saling berebut
Memperebutkan
ini dan itu
Namun
hal itu bukanlah miliknya
Pendidikan
kini main harga
Kaya
menjadi prioritas
Miskin
akan terbuang dan diacuhkan
Bukan
lagi anak-anak yang mengambil peran dalam permainan
Bayang-bayang
di tengah kegelapan
Bermain-main
dibawa tangan
Tawar
menawar bak penjual dan pelanggangnya
Puangku,
pammarentayya,
engkau mengatakan dirimu cerdas
Peduli
dengan kondisi sosial
Agent
perubahan, mempertautkan moral
Lalu,
engaku berdiam diri dibalik dinding para manusia-manusia
Yang
menangisi dirinya karena kelaparan
Aku
bangga, Pendidikan mengajarkan kecerdasan
Intelektualitas
berkembang dari para penganutnya
Hingga
ku temui kaum terdidik merampas dan merogok saku
Anak
jalanan
Kini,
telah bertebaran dimana-mana pecundang bangsa
Merasa
cerdas namun tak bermoral
Melahirkan
generasi yang hanya melonglong tak tahu diri
Haru
pada kebodohan, kebodohan untuk saling membodohi
Lalu,
masih pantaskah kita bangga dengan status sosial itu
Jika
kebanggaan itu lahir dari kemunafikan
Alangkah
malang nasib negeri ini
Negeri
yang selama ini kita banggakan
Dan kita hancurkanAdhy Wj
Wednesday, March 12, 2014
Pelangi Tak Berwarna
kupersembahkan cinta yang sederhana
sesederhana kita saling memahami.
sesederhana kita saling memahami.
“namun itu dulu”
bahagia itu tak harus mewah
cinta pun tak harus ini dan itu
bahagia itu tak harus mewah
cinta pun tak harus ini dan itu
“tak kau mentahkan rasaku”
hujan
kemarin sore telah menghapus jejakmu
tak dapat lagi ku ikuti langkahmu yang kian jauh
aku berdiri d bawah rindang pohon di tepi jalan itu
sesekali melirik d sisi mataku
namun, tak dapat ku temui kau kembali
hujan kian reda.
pelangi telah nampak mewarnai langit
tetesan hujan menyisakan kekeringan
hingga ku berjalan melewati jalan yang sepi itu kembali.
Adhy Wj
tak dapat lagi ku ikuti langkahmu yang kian jauh
aku berdiri d bawah rindang pohon di tepi jalan itu
sesekali melirik d sisi mataku
namun, tak dapat ku temui kau kembali
hujan kian reda.
pelangi telah nampak mewarnai langit
tetesan hujan menyisakan kekeringan
hingga ku berjalan melewati jalan yang sepi itu kembali.
Adhy Wj
Tuesday, February 18, 2014
KAMU INI BAGAIMANA, DAN AKU HARUS BAGAIMANA
Kamu
ini bagaimana
dan aku harus bagaimana...
Aku bertahan
kau mengatakan tak usah berlebihan.
Aku menyerah.
Dan dengan tegas kau mengecamku bahwa cintaku tidak benar-benar ada
kamu ini bagaimana
dan aku harus bagaimana
aku menasihatimu
kau malah menganggapku sok tahu
aku membiarkan tingkahmu
lalu kau anggap aku tidak pernah peduli
kamu ini bagaimana
dan aku harus bagaimana..
(inspirasi dari puisi gus mus)
dan aku harus bagaimana...
Aku bertahan
kau mengatakan tak usah berlebihan.
Aku menyerah.
Dan dengan tegas kau mengecamku bahwa cintaku tidak benar-benar ada
kamu ini bagaimana
dan aku harus bagaimana
aku menasihatimu
kau malah menganggapku sok tahu
aku membiarkan tingkahmu
lalu kau anggap aku tidak pernah peduli
kamu ini bagaimana
dan aku harus bagaimana..
(inspirasi dari puisi gus mus)
Adhy Wj
Saturday, February 1, 2014
AYAH
Aku duduk sendiri di teras malam itu
Aku memandangi langit yang tak Nampak karena
tertutupi dedaunan
Aku menatap tak berderah
Menikmati aliran sungai kecil yang
berirama depan rumah kita
Memandangi jalan yang sepi
Mamatahkan kesunyian dengan tatapan liar
Hingga kudapati engkau berjalan merontah
Dengan kaki telanjang
Sabit dan cangkul engkau bawa bersamamu
Pakaian penuh lumpur masih engkau
kenakan malam itu, "Tidakkah kau kedinginan karenanya ?"
Kemeja dengan dada terbukan menampakkan
tulang rusukmu
Engkau semakin tua, Tubuhmu semakin
kurus tak terawat
Engkau meletakkan cangkulmu dengan
tenang
Menggantung pakaian kotormu dengan rapi
Lalu beranjak menemui kekasihmu
Yang telah menunggu dirumah
Seharian engkau habiskan waktumu di sawah
Tak pernah kau menghiraukan mentari yang
membakar kulitmu
Hujan yang menggetarkan gerahanmu
Demi menghidupi anak dan istrimu
Aku tak dapat menemuimu kala itu
Aku lebih memilih duduk di rumahmu
memandangimu
dan menatapmu dari kejauhan
kesedihanku
tertancap, menusuk kedalam sanubariku
air mata mengalir dan menetes tanpa
kusadari
Ayah, selama ini aku memandangmu sebelah
mata
Kebencian menjadi raja bagiku dikala
engkau melarangku ini dan itu
Aku mematahkan rembulan yang engkau
berikan
Aku mengubur bintang hingga tak dapat
bersinar lagi
Malamku benar-benar sepi
Engkau telah menghilang dari pandanganku
Namun langkahku tak gelap lagi Ayah
Jelanku telah diterangi oleh jiwamu yang
suci
Menyelimutiku dengan kehangatan dalam dinginku
Memberikan warna dari setiap
persinggahanku.
Adhy Wj
SEPEDA TUA
Engkau menghirup udara pagi, siang, sore
bahkan malam bersama sepeda tua itu
Menyusuri jalan bebatuan, Melewati lumpur
yang basah
Hingga terkadang engkau lebih memilih
berhenti lalu engkau beriringan bersamanya
Kala itu, engaku mengajakku mengelilingi
desa dengan sepedamu
Membawaku ikut serta menikmati sepeda
tua kebanggaanmu
Bahagia, senang kurasakan waktu itu
Seharian kita bersama
Kulebih dekat denganmu karena sepeda tua
itu
Hari berganti hari engkau mulai lupa
padanya
Sepeda tua engkau tinggalkan sendiri
dikolom rumahmu
Tak terawat bahkan jaring laba-laba dan
debu menutupi wujudnya
Hingga memudarkan keindahannya
Sepeda tua itu engkau ganti dengan
kendaraan yang lebih mewah menurutmu
Bahkan tak pernah lagi engkau lirik
Dia sendiri di sana
Hanya berteman dengan beberapa barang
bekas yang tak kau gunakan lagi
Aku merindukan sepeda tua itu
Aku merindukan keceriaan ketika kecil
dulu
Aku merindukan kedekatan kita yang telah
hilang
Hilang bersama sepeda kebanggaanmu
Yang kau biarkan hancur hingga tak dapat
kugunakan lagi.
Adhy Wj
HATIKU MENANGIS
Aku mencintaimu di
ujung jalanku
beranjak meninggalkan segala kenangan yang
mewarnai langkah kita
angin berdesir berhembus menemani malam
tetesan hujan semakin menggelora, merindu laut yang menantinya
angin berdesir berhembus menemani malam
tetesan hujan semakin menggelora, merindu laut yang menantinya
langit tak secarah
kemarin
mentari berkeliaran
dibalik awan
tatapan ini semakin
pudar
saat mata hatiku redup
tak bercahaya
aku menerobos kegelapan
tanpa sinarmu
saat hujan melambaikan kekeringan
ku berdiri dibalik lamunan
memimpikan kekasihku yang tak kunjung
pulang
engkau langsana pelangi yang menghibur
langit saat menangis
engkau laksana setetes air yang memberi
pengharapan saat bungaku layu diseberang
ilusiku berimajinasi
selaksa mencari cinta dibalik kebencian
hari semakin berlalu
usiaku tak lagi muda untuk menunggumu
Sayang
biarlah engaku bersama kekasihmu
menjalini kisah asmara seperti halnya
ketika kita masih muda dulu.
Adhy Wj
Friday, January 31, 2014
1 FEBRUARI
Dalam
tidur pulas semalam
Mentari
masih bersendu malu Tuk menemuiku pagi itu
Dia
lebih memilih bersembunyi dibalik awan yang mengepul di langit
Februari pagi membawaku pada kenangan januari
Kenangan
yang belum sempat kutulis dan kusampaikan pada rembulan
Sebelum
mataku tertutup
Aku
membuka tirai jendela
Tuk
menatap langkah baru
Melihat
disana
Dua
orang nenek tua tersenyum mesra
Dedaunan
menari indah
Diiringi
lantunan angin merdu
Seolah
menggodaku tuk larut bersamanya
Februari
pagi membisikkan warna baru
Jauh
didalam kalbuku
Hatiku
tersenyum dibuatnya
Mataku
bersinar mengalahkan rembulan januari yang telah lalu
Aku
melangkah menapaki jalan yang pernah hilang
Aku
menemukan cahaya yang pernah padam
Langkahku
semakin jauh
Hingga
ku temui senja
Melukis
bintang, mewarnai malam
Adhy Wj
Thursday, January 30, 2014
MENATAP KERINDUAN
Aku termenung sendiri diruangan ini
Sejenak terbayang parasmu yang indah itu
Senyuman yang selalu mewarnai hariku
Dan tawamu yang begitu ceria melengkapi kebahagiaanku
Bayangan itu hanya sejenak sebelum tergantikan oleh kekosongan
Ku ingat kenangan yang membawa kita pada kondisi hari ini
Terpisahkan oleh kerinduan
Berjarak, hingga tak dapat ku sentuh
Senyuman yang selalu mewarnai hariku
Dan tawamu yang begitu ceria melengkapi kebahagiaanku
Bayangan itu hanya sejenak sebelum tergantikan oleh kekosongan
Ku ingat kenangan yang membawa kita pada kondisi hari ini
Terpisahkan oleh kerinduan
Berjarak, hingga tak dapat ku sentuh
Lagu yang engkau sarankan kepadaku
Itulah yang selalu menemiku
Semakin membawaku pada kerinduan
Aku berlari mengitari waktu
Bercumbu dengan mentari yang menghangatkanku
Memeluk bulan yang menerangi malamku
merayu
bintang tuk selalu mewarnai hariku, tanpamu
Kini,
aku berada dipenghujung dunia
mencarimu,
melihat disekelilingku
namun,
yang kuterumi hanya seenggok cahaya yang semakin jauh
kumengikutinya
oleh mataku
hingga
tenggelam dan lenyam dari pandanganku
Haruskan
aku menghilang bersamanya ? “tanyaku”
tidak,
ku tak ingin menghilang
ku
ingin kembali pada duniaku
menceritakan
pada mereka yang menantiku
meski
yang kutemui bukanlah dirimu lagi
Adhy Wj
MENAPAKI JEJAK LANGKAH KITA
Aku
terhenti oleh teriakan senja
Aku
menatap kisah yang tak berbekas
Ku
pandangi kalian yang kini jauh dari bayangan
Mananti
kata yang dulu engkau bisikkan ditelingaku
Kini
kita telah terseret oleh kepentingan masing-masing
Satu
persatu beranjak meninggalkan kursi tua itu
Ku
hanya merindu,
Merindukan
kenangan kita
Meski
dibalut oleh kebencian dan dendam
Terbayang
dalam nestapaku
Ketika
engkau berayun di pintu besi gedung BC 207
Saling
mengejek dan menertawai
Bercanda
dan membalut kasih bagai pasangan kekasih
“engkau
tak bahagia ya di masa kecilmu”
Kata
itu membawaku jauh dari kondisiku saat ini
Mengingatkanku
pada sapaan kalian
Teguran
kalian
Bahkan
teriakan-teriakan saat diskusi
Seolah-olah
ingin membunuhku dengan dialektika bahasamu
Kawan,
Ruangan itu telah kosong oleh bayangnmu
Kini
hanya dipenuhi oleh orang-orang yang tak mengerti persaudaraan kita
Bahkan
mereka tak mengetahuinya,
Persaudaraan
itu hanya kita yang tahu kawan, hanya kita
Aku
berjalan sendiri menapaki jejak langkah kita
Membawa
kenangan itu bersama khayalku
Memikul
kesedihan yang tak pernah kau rasakan oleh kehilanganmu
Kini
kita bertemu kembali kawan
Kalian
berdiri tepat di hadapanku
Namun
kumerasa begitu jauh dari pandanganku
Apa
yang beda hari ini “bisikku dalam hati”
Ku
duduk termenung ditaman fakultas ilmu sosial disore itu
Aku
menatap dengan mata kosong tanpa dekapanmu
Merindu
kalian
Dibuaian
senja
Adhy Wj
Sunday, January 26, 2014
KURINDUKAN KEKASIHKU
Taman kampus telah sepi dari langkah
para penghuninya
Mereka telah meninggalkan tempat ini
sore tadi
Malam sunyi tanpa bintang yang menghiasi
langit
Bintang yang selalu menemaniku dikala
mentari telah berselingkuh dengan yang lain
Dalam diam
Terbayang kekasihku
Aku
merindukannya, merindukan seperti bumi merindukan bintang dimusim hujan.
Senandung malam
berirama diantara nada-nada piawai
pujangga
berselimut riuh
dengung-dengung nyamuk yang berpesta.
Dia tak lagi disini
Langkahnya telah jauh meninggalkan
tempat ini
Hingga ku tak mampu lagi meraih
jemarinya
Tuk ku dekap dalam tubuhku
Merayunya, dan membelai rambut yang
menjadi mahkotanya
Dia terus berjalan dan tak pernah lagi
menoleh kebelakang
Melirik pun tidak
Aku tak mampu melangkahkan kaki ini
Tetatih ku dibuatnya.
Hingga kutemukan dia bergandengan dengan
lelaki lain
Parasnya yang indah tepat berada
dihadapku
Ku memandanginya, namun ku merasa dia
sangat jauh disana
Hingga ku tak dapat mengenalinya, bahwa
dialah kekasihku
Wanita yang ingin kupinang setelah
sarjana nanti
Dia hilang dari pandanganku, kemanakah
dia.
Kuperhatikan disekelilingku
Kucari sosoknya.
Kemanakah dia.
mengapa menghilang bagai ditelan bumi,
kuberlari mengitari jalan sana dan sini
namun semakin ku berusaha dan terus
berlari justru yang ada ku semakin dibutakan olehnya.
Dia tidak ada, telah tiada.
Namun tak mungkin kuberhenti ditempat
ini, ku harus menemukannya
kuingin dia kembali dalam pelukku,
Ku harus menemukannya.
Kucoba beristirahat sejenak ditengah lelahku,
kucoba sadarkan diriku bahwa dia tidak
ada, dia telah pergi,
Namun mengapa begitu cepat dia
menghilang,
Pergi kemanakah dia ? Itulah pertanyaan
yang hadir dipikirku saat ini.
Kutundukkan pandanganku, dan kucoba tenangkan
diriku dari bayangnya.
Aku sangat mencintainya, namun mengapa
justru bayangnya yang selalu hadir dihadapanku
kemana dia yang sebenarnya,
apakah telah menjadi milik orang lain,
dan mengapa harus orang lain.
apakah ada yang mencintainya dan lebih
besar dari cintaku ?
mengapa bukan aku yang justru selama ini
telah berusaha mencintainya.
ini bukanlah cerita cinta yang telah ku
skanariokan dalam hidupku
bahagia ataupun sedih diakhir cerita ini
pun aku tak tahu.
Yang ku tahu bahwa aku masih
mencintainya
Adhy Wj
MEMANDANGI LANGIT
Langit
kembali menangis
memudarkan
senyuman mentari pagi ini
Kaki
yang hendak kulangkahkan meninggalkan ruangan itu kian terhenti
Pendanganku
kembali tertuju diruangan itu
diruangan
yang menjadi persembunyian dibalik keganasan Tuhan yang tak lagi mengharap
ketenangan dinegeriku.
Ku
pandangi langit yang begitu gelap
mengharap
ada setitik cahaya yang dapat menggoda mentari untuk kembali bangkit.
Tetasan
hujan menari dengan indah
Melambaikan
sayup-sayup keheningan
Berirama
dengan secerca cahaya petir yang menyambar
Hening,
hanya lantunan angin yang menerpa dedaunan
Berbisik
dan mencoba memecah keheningan itu
Terdengar
olehku bisikan itu,
Dengan nada pelan, “ku telah salah menilai Tuhan”
Hei.. Tuhan tidak ganas,
Tuhan tak per pernah kejam terhadapmu
Apalagi terhadap negeri ini,
Engkaulah makhluk yang ingkar terhadapnya
Yang bisanya merongrong tak tahu diri
Bisikan itu menusuk hatiku
Menampar jiwaku yang kelam ini.
Dan bisakan itu adalah cahaya yang sesungguhnya
Adhy Wj
Friday, January 24, 2014
Lilin Harapan
Dikala kau bercumbu dengan tangismu dan menjelma dalam
keheningan, disaat itulah kau berada dalam hayalku, menghiasiku dalam
kebimbangan. jangan kau sedih ataupun pilu karena hal inilah yang dapat
membuatmu menjadi lebih baik, “pikirku.......”
Aku habiskan waktuku tuk selalu mencarimu dari saat
sang fajar menyapa, hingga saat petang membenamkan sang surya, kenapa
kau selalu bersembunyi di balik dekapan sang ombak? dan menangis
dalam butir butir hujan yang larut dalam samudra? tak dapatkah kau
ceritakan padaku tentang hidupmu? atau bahkan tentang masalahmu,
apa yang membuatmu menangis saat ini? ku coba tuk
gambarkan senyumanmu oleh lemahnya jemariku.
Aku sadar, takkan ada yang dapat gantikan hangatnya
senyummu, malamku benar-benar gelap tanpa belaian rembulan dan petikan cahaya
lilih yang dulu pernah kau nyalakan saat masih berada disini, ditempat dimana
kau menunjukkan dunia untukku, lilin itu telah redup, telah pupus termakan
waktu ditengah perjalananku, kini sang pagi telah menantiku,
menawarkan langkah langkah baru tanpamu, apakah yang harus ku
pilih? menunggumu? melupakanmu? atau bahkan membencimu? sungguh aku
tak tahu, aku tak pernah tahu.... aku terlalu lemah tuk tahu. hanya
berharap, esok kau kan datang padaku, memberikan cahaya baru untuk menerangi
langkahku yang kian tertatih, bersama melewati duri dan bebatuan yang selama
ini kukeluhkan.
Tuhan, jika mimpiku ini
terlalu besar dan berat tuk Engkau penuhi, apalah daya harapan ini. Harapan
yang selalu mengantarku dalam tidur. Dan Harapan ini pulalah yang hadir dan
menyapaku bersama mentari pagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)

.jpg)
