About

Showing posts with label WAJAH NEGERIKU. Show all posts
Showing posts with label WAJAH NEGERIKU. Show all posts

Wednesday, June 18, 2014

Sekolah Mimpi Dari Kampung Seberang

Jam dinding telah menunjukkan pukul 20.30. malam pun telah menyatu dengan sepi, suara binatang yang tak asing lagi mencoba memecah keheningan malam ini. Kupandangi bintang dari balik jendela, hayalku pun melambung tinggi dan mencoba berada diantara bintang-bintang yang ada di langit, merasakan keindahannya.
Belum tidur nak? Serentak hayalku pun terpecah oleh suara dibalik pintu kamarku
Belum bu. Jawabku singkat
Apa ada sesuatu yang engkau pikirkan?
Tidak ada apa-apa bu.
Yang sudah, lekas tidur.
Suaranya pun berlalu ketika kupalingkah wajahku tuk kedua kalinya.
Kicauan burung menyambutku pagi ini dari tidur semalam, mentari telah menampakkan sinarnya diantara dedaunan dari upuk timur. Tak ada yang beda hari ini. Ya, kurang lebih seperti kemarin, benar-benar tak ada yang berubah (bisikku dalam hati). Aku berjalan melewati pintu rumah yang hendak roboh dari asalnya, kuberdiri sejenak hingga kupandangi dari sisi mataku dua anak berjalan beriringan melintas depan rumahku dengan seragam putih biru, dengan ransel yang berada dipunggung mereka masing masing

Wednesday, June 5, 2013

Persoalan Dasar Pendidikan Kita


          Salah satu benang merah yang dapat ditarik dari sejarah pendidikan dan persekolahan di tanah air adalah bahwa sistem pembelajaran sebagaimana ia diselenggarakan selama Orde Baru harus ditolak karena terbukti menjajah, memasung, dan mengkerdilkan jiwa kaum muda Indonesia. Pendidikan yang bersifat informal, secara sembrono dipersamakan dengan pengajaran di lembaga formal --yakni 'sekolah' dan 'universitas', dalam arti yang telah menyimpang jauh dari makna kedua kata itu-- bahkan juga dengan pelatihan yang non-formal --terutama di perusahaan-perusahaan yang memiliki Divisi 'Pendidikan' dan Pelatihan, tetapi juga di Balai Latihan Kerja dibawah Departemen Tenaga Kerja Orde Baru-- telah terbukti 'efektif' membunuh kreativitas dan daya cipta kaum muda. Hal ini pada gilirannya melahirkan angkatan kerja baru yang bermental budak, yang tentu saja tidak dapat diharapkan menjadi produktif kecuali menjadi parasit, atau bahkan kanker, bagi masyarakat di lingkungan kerjanya.
Dengan lebih tegas dapat dikatakan masalah mendasar dari sistem pendidikan di negeri ini berakar pada ketidakmampuan seluruh anggota masyarakat untuk berbagi tugas dan tanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan melatih tunas-tunas bangsa, kaum muda yang sedang berproses mencari

MELACAK ASAL USUL SEKOLAH


Sistem pendidikan hari ini seperti sangatlah mencekip dan sungguh tak sesuai dengan seharusnya. Pembelajaran di sekolah formal mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi telah terjangkiti paham capitalism. Semua mengalir seperti tanpa masalah, semau berlalu dengan penindasan dari kaum elite. Belum lama ini kita dihebohkan dengan rancangan undang-undang perguruan tinggi (RUU-PT) kembali lagi itupun sebuah rancangan dari para capitalism. Tak ada yang murni namun tetap saja kita terlurut dididalamnya, seolah-olah tak ingin tahu tentang permasalah itu, malah justru kita ikut terlibat dalam menikmatinya.
"Nenek saya ingin saya memperoleh pendidikan, karenanya, ia tidak mengijinkan saya sekolah," demikian Everett Reimer mengutip kalimat Margaret Mead ketika menulis bagian Pendahuluan bukunya School is Dead. Dari judul yang dipilihnya, dan diperkuat dengan kalimat pertama itu, nampak benar ketajaman kritik Reimer terhadap lembaga persekolahan, baik dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Bagi mereka yang tahu bahwa Reimer adalah rekan Ivan Illich, hal itu mungkin akan mengurangi rasa terkejut dalam mempelajari kritik Reimer terhadap pembelajaran di persekolahan. Sebab Illich sendiri pada

Wednesday, April 10, 2013

Selayaknya Seorang Pemimpin "Tak Selalu Duduk Dibalik Meja Mewahnya"

"PEMIMPIN SEJATI ADALAH PEMIMPIN YANG BERDIRI PALING DEPAN UNTUK MELINDUNGI BANGSANYA, DAN BUKAN BERDIRI PALING BELAKANG UNTUK MELINDUNGI DIRINYA"


- Douglas Mc Arthur -
Komandan Tempur Asia Pasifik dimasa perang dunia II

Yuk kita Simak kembali kisah tentang seorang pemimpin sejati dari Negeri Sakura agar bisa menjadi pelajaran bagi bangsa kita.

Suatu hari sy melihat di NATIONAL GEOGRAPHIC CHANNEL yang menayangkan kisah 1 tahun TRAGEDI FUKUSHIMA.

Fukushima adalah Reaktor Nuklir yg dibangun pada tahun 1960 oleh pemerintah Jepang, dan di gunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Ada lima reaktor yg dimiliki Fukushima, selama ini reaktor tersebut berjalan baik2 saja dan menjadi Penopang Utama kebutuhan listrik untuk kota Tokyo.

Saturday, January 12, 2013

"Aku" Si Pengemis


Aku secuil kisah negeri ini
jembatan adalah atap langitku, terik mentari adalah sahabatku,
nasi sebuah ketakmampuanku.

Ada konstitusi yang absurd adanya, kucari yang ada pada  pada 34 itu hausku akan dunia pendidikan tak terwujud  pada pasal 30 itu.

Aku sering menjadi wacana pengemisan oleh para pecundang bangsa, mengaku cerdas namun tak bermoral.
hidup hanya bergelut pada kebodohan, kebodohan yang saling membodohi, kecerdasan tak saling mencerdaskan, membinasakan itulah kisah akhir.

Ilmu bermain dalam rana tak berarti, hakikatnya tak ada yang pahami, hanya sekedar mendalami tak ada aplikasi, menjadikan diri tak lebih hina dari binatang.

Walaupun hidupku selalu dianggap mengotori,
sebuah negeri yang tak peduli, namun aku lebih bangga dengan ini.
Tak berpendidikan memang, tapi aku lebih tahu menempatkan hakikat hidupku.
Tak cerdas ? Tak masalah ! asalkan aku tahu memanusiakan manusia.
tak seperti para petinggi itu, yang hanya melonglong tak tahu diri.
Yang ternyata tak lebih sampah dibandingkan Aku.

Si Pengemis, Bukan Tikus Bangsa

Bangga Indonesia

Kemarin
Ibuku pernah berkata
Indonesia adalah Negeri yang kaya
kaya karena pernah terjajah
terjajah karena emas
terjajah untuk menghidupkan negeri orang

Dan hari ini
Aku pun berkata
Yah.. Indonesia memang Negeri yang kaya
kaya karena melahirkan banyak koruptor
kaya karena masih ada yang bisa dikorupsi

Lalu esok
Jika penerus-penerus kami lahir
kami percaya
mereka pun akan tetap berkata
Indonesia memang Negeri yang kaya
Kaya karena buminya masih mampu memberi mereka kehidupan
dan penduduknya masih sanggup mengajarkan nilai kehidupan..


Karya  : Nurafni Oktivia (Anak Bantaeng) AP"12 FIS UNM
Editor  : Adhy

Tangisku Akan Penguasa "Negeriku Indonesia"

Meski masih ditertawakan oelh sebagia besar orang-orang yang tak mengerti arti usaha dan kesunguhan.
menjadi bahan comoohan dari kalangan elite yang mestinya mengangkat kami dari keterpurukan tiada akhir.

Aku selalu menuntut akan orasi yang dilontarkan oleh calon penguasa pada saat kampanya di Negeri ini, setiap kata dan kalimat aku tanamkan dalam hati kecil ini hingga tiba masanya kuberniat untuk menagih janji itu. Namun tak sedikit pun yang keluar dari lisanku menjadi pertimbangannya, melainkan bodiguard dan penjaga istananya menjadi lawanku yang hanya berharap sedikit sentuhan untuk merasakan arti ketenangan hidup ini..
"alankah angkuhnya mereka setelah kami mempercayainya untuk menjadi pemimpin" itulah kata yang terbesik dipikiranku..

Aku terkadang marah pada dunia yang tak adil dalam hidupku,
sesekali terniang dalam pikiranku untuk lari dari dunia yang bagiku mencoba mematahkan langkahku.

Hingga kutemukan sosok kesadaran dalam diri bahwa kesendirian bukanlah akhir dari kehidupan, hidupku tak haru kugantungkan pada makhluk yang tak memiliki hati namun cukuplah kederhanaan dalam hidupku yang dapat membuatku bertahan.

Cinta yang membawaku pada kedamaian telah menjadi hiasan dalam hidupku
Aku tak peduli jika para kaum elite tak pernah menyentuh hidupku,
aku tak akan berharap pada manusia, Manusia yang katanya cerdas namun tak bermoral, yang menganggap dirinya raja namun tak lebih hina dari sampah jalanan.

Aku akan bangga pada hidupku
meski sesuap nasi sangat susah kudapatkan
namun setidaknua ku mampu menghargai antar sesama dengan hidup yang sederhana.


Adhy (karya yang terlupakan)
 

Total Pageviews

Pages