Makassar, 09 Juli 2014
Oleh: Adhy Paturusai
Lelah telah terbersik dalam jiwaku. Mengejarmu, mencarimu namun tak lagi
kutemui. Pandangan tertuju jauh kebelakang saat kita melangkah bersama dan
bermimpi untuk hidup bersama. Kebahagian tetap terasa meski tak pernah
berlangsung lama. Kembali teringat kisah tahun lalu ketika hubungan kita
diselimuti oleh permasalahan yang tak ada hentinya, bahkan kita masih berputar
pada permasalahan yang sama hari ini.
Pikirku memaksa untuk melepasmu. Namun, hal ini justru menyakitkan
hatiku. Jiwaku begitu menginginkanmu bahkan rela untuk merasakan sakit yang
berulang-ulang demi untuk melihatmu kembali. Jiwaku selalu merindukanmu saat
kau jauh dari sisiku, hingga dalam keseharian aku memimpikanmu, memimpikan
cintamu untuk menemani jiwaku.
Hidup berkabung dalam duka, berjalan tak tahu arah dalam setiap
langkahku, cintamu menjadi tujuan dalam setiap mimpi yang menggantung bersama
bintang-bintang dimalam hari, bersama mentari yang mencerahkan bumi meski
terkadang tak ku temui keduanya. Hati ini kembali menangis saat hujan
mengguyuri bumi dan duka kembali menyesakkan hati dan jiwaku.
Mentari kembali menyinari bumi, begitu cerah hari ini bahkan
pertengkaran-pertengkaran kemarin berbalik arah dan berubah seketika. Kita kembali
layaknya pasangan kekasih yang begitu mesrah. Keindahan dalam diri terpaut dan
terpancar untuk saling menyinari. Teriakan-teriakan kemarin yang menyakitkan
kini telah berubah oleh hiasan senyumanmu.
Dalam lelah kuterbari didekatmu, jauh kuterbawa oleh mimpi-mimpi, lalu
kemudian kutersentak terbangun oleh suara petir dingan sinar yang menakutkan,
menyambar disetiap sudut bumi hingga menelan engkau yang masih duduk didekatku
sebelum tertidur tadi. Genggaman tangan inipun telah kosong oleh lembutnya
jemarimu, di ruangan ini tak ada siapa-siapa lagi selalu aku, hanya aku seorang
dalam duka. Saat terbangun segera beranjak dari tempat dudukku, aku kembali
mencarimu dan hal ini telah berulang sekian kali. Rasa takut kembali
menggerogotiku karena kehilanganmu bahkan jauh lebih menakutkan dari suara dan
sinar petir yang menghentakkan tidurku.
Terbayang yang terindah lalu bermimpi dalam duka, lelah dalam mencarimu
namun tak kutemui engkau dari sudut manapun. Sesak begitu terasa dalam hati
seakan tak dapat membendung karena kehilanganmu. Jiwaku meronta tak karuan
begitu sesak dalam dada.
Aku tertidur dalam tangis dan duka, namun hal ini tak membawaku pada
kondisi yang lebih baik. Kuterbawa dalam mimpi yang semakin memperburuk. Ingin kuterbangun
namun tak ingin membuka mata. Bingung, entah harus tertidur seterusnya atau harus
terbangun dan membuka mata dengan menerima kenyataan bahwa engkau tak ada lagi
dari pandanganku. Dua alam yang tak dapat memberikan kedamaian lagi.
Aku tetap tertidur, tak kutemui alasan untuk terbangun dan beranjak dari
tempat ini karena karena begitu takut melihat bulan tanpa sinarnya.
Adhy Wj
Adhy Wj
No comments:
Post a Comment